IndoMarine-

A mari usque ad mare

Home Post New Entry

POTENSI, CARA DAN DAMPAK PERTAMBANGAN / PENGEBORAN MINYAK LEPAS PANTAI DI INDONESIA

Posted by Administrator on August 10, 2012 at 6:30 AM

PENDAHULUAN

 

Indonesia merupakan negara kepulauan, maka wajar kalau terdapat banyak aktivitas khususnya dalam ruang lingkup bidang kelautan yaitu :

 

 

 

 

 

 

 

Sumber PKSPL IPB, dikutip dari Bahan Kuliah Ekonomi Kelautan Prof. Dr. Tridoyo Kusumastanto

Gambar 1. Ruang Lingkup Bidang Kelautan

 

Pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia di bumi. Sebagai wilayah peralihan darat dan laut yang memiliki keunikan ekosistem, dunia memiliki kepedulian terhadap wilayah ini, khususnya di bidang lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Potensi pembangunan yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu : 1) Sumber Daya dapat pulih (renewable resources), 2) Sumber daya tak dapat pulih (non renewable resources) dan 3) Jasa - jasa lingkungan (environmental services).

Sumberdaya dapat pulih terdiri atas hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan rumput laut serta sumber daya perikanan laut. Pengertian sumberdaya perikanan laut sebagai sumber daya yang dapat pulih, sering disalahtafsirkan sebagai sumberdaya yang dapat dieksploitasi secara terus menerus tanpa batas.

Sumberdaya tidak dapat pulih meliputi seluruh mineral dan geologi, misalnya mineral terdiri dari tiga kelas, yaitu kelas A (mineral strategis, misalnya minyak, gas, batubara); kelas B (mineral vital meliputi emas, timah, nikel, bauksit, biji besi, dan kromit), dan kelas C (mineral industri termasuk bahan bangunan dan galian seperti granit, kapur, tanah liat dan pasir). Berbagai potensi sumber daya mineral wilayah pesisir dan lautan di Indonesia merupakan penghasil devisa utama dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Wilayah pesisir dan lautan Indonesia juga memiliki berbagai macam jasa lingkungan yang sangat potensial bagi kepentingan pembangunan dan bahkan kelangsungan hidup manusia. Jasa jasa lingkungan meliputi fungsi kawasan pesisir dan lautan sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, media transportasi dan komunikasi, sumber energi, sarana pendidikan dan penelitian, pertahanan keamanan, penampungan limbah, pengatur iklim (climate regulator), kawasan perlindungan (konservasi dan preservasi), dan sistem penunjang kehidupan serta fungsi ekologis lainnya.

Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan di Indonesia dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan (sustainable development) diperhadapkan dengan kondisi ada wilayah yang sudah dimanfaatkan (dikembangkan) dengan intensif sehingga adanya indikasi telah terlampauinya daya dukung atau kapasitas berkelanjutan (potensi lestari) dan ada wilayah yang sama sekali belum dimanfaatkan atau dikembangkan.

Salah satu Aktivitas perekonomian utama yang menimbulkan permasalahan pengelolaan sumberdaya dan lingkungan wilayah pesisir dan lautan, adalah pangilangan minyak dan gas yang berupa tumpahan minyak ataupun kesalahan dalam pengeboran, misalnya kebocoran pipa dan hal hal lainnya.

Padahal dalam kenyataannya dari data PDB Bidang Kelautan atas dasar harga berlaku pada tahun 1995 – 2005, sektor yang menempati posisi teratas adalah sektor pertambangan minyak dan gas, seperti tabel dibawah ini :

Tabel 1. PDB Bidang Kelautan atas dasar harga berlaku pada tahun 1995 – 2005

menurut sektor (Milyar Rupiah).

 

Sumber : Kusumastanto, 2006

Secara sektoral pertambangan selalu dilihat dalam kacamata kontinental, karena umumnya pertambangan berbasis daratan. Dari kacamata ekonomi makro sektor pertambangan laut ini memiliki nilai ICOR sebesar 3,64. Nilai ini cukup besar, karena memang untuk melakukan kegiatan investasi pertambangan memerlukan dana yang besar sejak proses eksplorasi sampai pembangunan instalasi pengeboran khususnya dalam perminyakan dan gas alam. Dengan demikian sektor ini memiliki resiko yang besar namun penerimaannya juga besar.

Laut memiliki potensi pertambangan dan energi yang cukup besar namun pengembangannya terkendala oleh investasi dan teknologi. Sehingga walaupun potensi besar namun cadangan terbukti semakin menipis.

Dengan kontribusi yang sangat besar diakibatkan resiko yang besar, maka sektor ini perlu diperhatikan oleh pemerintah Republik Indonesia, agar eksploitasi yang dilakukan tidak mengancam ketersediaan sumberdaya, karena Tambang Minyak dan gas bumi merupakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui.


 

 

 

 

 

ISI

A. POTENSI

POTENSI dan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa, wilayah nusantara menjadi surga riset ilegal kapal asing. Tujuannya tidak lain adalah untuk kepentingan perusahaan, lembaga atau negara yang ingin menguasai bumi khatulistiwa. Banyak data dan potensi sumber daya alam dicuri karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian bangsa ini.

Sejak era reformasi, survei dan pemetaan laut yang dilakukan pihak asing semakin marak terjadi. Mulai dari kedok kerjasama institusi pemerintah dengan pihak asing, sampai dengan yang jelas-jelas ilegal alias tidak memiliki izin dari pemerintah Indonesia.

Kegiatan tersebut tanpa sadar membawa konsekuensi bocornya data negara yang seharusnya dirahasiakan. Informasi tentang medan laut dapat digunakan pihak asing untuk menentukan taktik dan strategi militer, jika mereka ingin menguasai wilayah Indonesia.

Sebenarnya negara telah memiliki peraturan kerjasama internasional di bidang penelitian dan pengembangan, dengan adanya PP (Peraturan Pemerintah) No 41 tahun 2006, tentang perizinan kegiatan penelitian dan pengembangan oleh pihak asing di Indonesia. Peraturan pemerintah ini menetapkan ketentuan, persyaratan, kewajiban dan larangan yang harus ditaati lembaga atau peneliti asing, mitra serta lembaga penjamin kegiatan penelitian. Peraturan tersebut harus dilaksanakan pemerintah untuk melindungi masyarakat, bangsa dan negara dari kemungkinan kerugian yang ditimbulkan penelitian pihak asing.

Seluruh penelitian harus mendapat izin dari lembaga penanggung jawab, yaitu Kementerian Riset dan Teknologi, melalui tim yang dibentuk Sekretariat Perizinan Peneliti Asing (TKPIPA). Tim ini merupakan pokja interdept yang anggotanya terdiri dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Mabes POLRI, BIN, LIPI, BPPT, serta kementerian lain yang disesuaikan dengan misi riset.

Selain itu, kapal survei asing yang akan digunakan di Indonesia juga harus memenuhi persyaratan yang ditentukan Kementerian Pertahanan. Karena kapal riset asing bukan sekadar lewat, tetapi membawa data informasi kondisi laut Indonesia. Jika tidak berhati-hati data laut Indonesia bisa berpindah tangan.

Namun, pemerintah sendiri tidak konsekuen menjalankan peraturan tersebut. Kondisi ini diperparah dengan terjadinya benturan antar peraturan yang ada. Sebagai contoh, Undang-undang No 22 tahun 2001 yang mengatur tentang minyak dan gas. Aturan ini memberikan peluang bagi pihak asing untuk melakukan kegiatan survei dan pemetaan lepas pantai dengan cara mudah, yaitu cukup memperoleh izin dari Dirjen Migas tanpa koordinasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, seperti yang diatur peraturan sebelumnya. Padahal, sudah sangat jelas bahwa penggunaan peneliti dan kapal asing harus mendapat persetujuan Security Clearance dari pihak Kementerian Pertahanan.

Birokrasi yang rumit serta panjangnya waktu untuk proses perizinan inilah yang menjadi bahan pertimbangan bagi para pelaku (mitra kerja dan lembaga penjamin di Indonesia) pemenang tender mencari jalan pintas dengan cara mengambil celah-celah hukum agar survei laut tetap “legal”, tanpa melewati prosedur. Hal ini terjadi, karena bagi mereka yang dipikirkan adalah benefit yang harus diperoleh. Memotong jalur birokrasi berarti menghemat waktu dan biaya yang harus dikeluarkan.

Menurut Deputi bidang pengembangan Kekayaan Alam, BPPT dari 60 cekungan minyak yang trekandung dalam alam Indonesia, sekitar 70% atau sekitar 40 cekungan terdapat dilaut. Dari 40 cekungan itu, 10 cekungan telah diteliti secara intensif, 11 baru diteliti sebagian, sedang 29 belum terjamah. Diperkirakan 40 cekungan itu berpotensi menghasilkan 106,2 milyar barel setara minyak, namun baru 16,7 milyar barel yang diketahui dengan pasti 7,5 milyar barel diantaranya sudah dieksploitasi. Sedangkan sisanya sebesar 89,5 milyar barel terkandung dilepas pantai, yang lebih dari separuhnya atau sekitar 32,8 milyar barel terdapat dilaut dalam.

Berdasarkan hasil kajian Team Evaluasi Cadangan Potensial (TECP), angka potensi sumberdaya migas per status 1 januari 1998 yang siap dieksplorasi adalah sebesar 120,62 milliar BOE (Barrels of oil Equivalent), terdiri atas 71,14 milliar barel minyak bumi dan 49,48 milliar BOE gas bumi atau 296,87 TSFC (Trillion Standard cubic Feet) terakumulasi pada 60 cekungan sedimen berumur tersier yang tersebar diseluruh Indonesia. Data yang diperoleh dari direktorat Jenderal Minyak dan Gas bumi DPE cadangan (potensi) minyak bumi Indonesia pada tahun 1998 sebesar 9,7 milliar barell dibandingkan dengan cadangan minyak bumi pada tahun 1995 yang hanya 9,1 milliar barell. Sekitar 57% dari 9,7 milliar barell tersebut atau 5,5 milliat barell berada diwilayah Sumatera Tengah.

B. PENGEBORAN LEPAS PANTAI

Pengeboran lepas pantai biasanya mengacu pada penemuan dan pengembangan sumber daya minyak dan gas yang terletak di bawah air. Paling umum, istilah ini digunakan untuk menggambarkan minyak ekstraksi lepas pantai benua, meskipun istilah ini juga dapat berlaku untuk pengeboran di danau dan laut pedalaman. pengeboran lepas pantai menyajikan tantangan lingkungan hidup, terutama di Arktik atau dekat dengan pantai. Kontroversi termasuk yang sedang berlangsung perdebatan pengeboran lepas pantai AS. Ada berbagai jenis platform untuk kegiatan pengeboran lepas pantai, dari perairan dangkal jaket baja dan tongkang jackup , untuk mengambang semisubmersibles dan drillships mampu beroperasi di perairan yang sangat mendalam.

C. SEJARAH

Sekitar 1891, sumur minyak pertama dibor terendam dari platform dibangun di atas tumpukan di perairan segar dari Grand Lake St Marys (alias Mercer County Waduk) di Ohio . Sumur tersebut dikembangkan oleh perusahaan lokal kecil seperti Bryson, Riley Minyak, Jerman-Amerika, dan Minyak Banker’s.

Sekitar tahun 1896, sumur minyak pertama terendam dalam air garam dibor di bagian dari lapangan Summerland memperpanjang bawah Santa Barbara Channel di California . The wells were drilled from piers extending from land out into the channel. Sumur dibor dari dermaga memanjang dari luar negeri ke dalam saluran tersebut.

Tujuan utama dalam suatu operasi pemboran adalah untuk membuat hubungan antara formasi (yang produktif) dengan permukaan. Prosedur pembuatan lubang sumur tersebut dibatasi dengan kondisi - kondisi tertentu, baik secara ekonomi maupun secara teknis, sehingga diusahakan untuk mendapatkan hasil secara cepat, murah dan aman. Lubang hasil proses pemboran tersebut dinamakan dengan "lubang sumur (well bore)". Untuk melindungi dinding lubang dari kemungkinan runtuh, selanjutnya dipasang pipa selubung (casing) dan disemen. Langkah berikutnya adalah pemasangan fasilitas peralatan produksi untuk mengeluarkan fluida hidrokarbon (minyak/gas) dari dalam formasi produktif.

Sistem peralatan pemboran lepas pantai pada prinsipnya adalah merupakan perkembangan dari sistem peralatan pemboran darat, maka metode operasi lepas pantai membutuhkan teknologi yang baru dan biaya operasi yang mahal, karena kondisi lingkungan laut berbeda dengan kondisi lingkungan darat.

Gambar 2. Anjungan Lepas Pantai

Sumber : Download gambar www.google.com

 

 

Peralatan mutlak yang harus ada dalam operasi pemboran lepas pantai adalah sebuah strutur anjungan (platform) sebagai tempat untuk meletakkan peralatan pemboran dan produksi. Berbagai macam anjungan telah dibuat, seperti anjungan permanen (fixed) yang terdiri diatas kaki-kaki beton bertulang. Jenis ini umumnya digunakan pada laut dangkal dan pada lapangan pengembangan sehingga dapat sekaligus menjadi anjungan pemboran dan produksi. Berbagai hambatan alam yang harus diatasi bagi pengoperasian unit lepas pantai. Hambatan tersebut antara lain : angin, ombak, arus dan badai.

Metode yang dipakai dalam operasi pemboran adalah metode pemboran tumbuk dan metode pemboran berputar (rotary drilling). Pada dewasa ini operasi pemboran yang mengalami perkembangan adalah pemboran berputar, sehingga dalam praktikum "Peragaan Peralatan Pemboran" ini, sebagian besar akan mencakup peragaan sistem utama dan sistem penunjang dari pemboran sistem putar, yang meliputi sistem tenaga pengangkatan, pemutar, sirkulasi dan sistem pencegahan semburan liar, serta ditambah dengan sistem penyemenan dan sistem penunjang yang lainnya. Prinsip dasar dari pemboran berputar adalah memutar rangkaian pipa bor dan memberikan beratan di atas pahat dalam membor lubang.

 

 


 

 

D. Kajian

Pengeboran minyak lepas pantai termasuk ke dalam Eksplorasi atau pencarian minyak bumi. Eksplorasi atau pencarian minyak bumi merupakan suatu kajian panjang yang melibatkan beberapa bidang kajian kebumian dan ilmu eksak. Untuk kajian dasar, riset dilakukan oleh para geologis, yaitu orang-orang yang menguasai ilmu kebumian. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas pencarian hidrokarbon tersebut. Perlu diketahui bahwa minyak di dalam bumi bukan berupa wadah yang menyerupai danau, namum berada di dalam pori-pori batuan bercampur bersama air.

Kajian Geologi

Secara ilmu geologi, untuk menentukan suatu daerah mempunyai potensi akan minyak bumi, maka ada beberapa kondisi yang harus ada di daerah tersebut. Jika salah satu saja tidak ada maka daerah tersebut tidak potensial atau bahkan tidak mengandung hidrokarbon. Kondisi itu adalah:

a) Batuan Sumber (Source Rock)

Yaitu batuan yang menjadi bahan baku pembentukan hidrokarbon. biasanya yang berperan sebagai batuan sumber ini adalah serpih. batuan ini kaya akan kandungan unsur atom karbon (C) yang didapat dari cangkang – cangkang fosil yang terendapkan di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama dalam rantai penyusun ikatan kimia hidrokarbon.

b) Tekanan dan Temperatur

Untuk mengubah fosil tersebut menjadi hidrokarbon, tekanan dan temperatur yang tinggi di perlukan. Tekanan dan temperatur ini akan mengubah ikatan kimia karbon yang ada dibatuan menjadi rantai hidrokarbon.

 

 

c) Migrasi

Hirdokarbon yang telah terbentuk dari proses di atas harus dapat berpindah ke tempat dimana hidrokarbon memiliki nilai ekonomis untuk diproduksi. Di batuan sumbernya sendiri dapat dikatakan tidak memungkinkan untuk di ekploitasi karena hidrokarbon di sana tidak terakumulasi dan tidak dapat mengalir. Sehingga tahapan ini sangat penting untuk menentukan kemungkinan eksploitasi hidrokarbon tersebut.

d) Reservoar

Adalah batuan yang merupakan wadah bagi hidrokarbon untuk berkumpul dari proses migrasinya. Reservoar ini biasanya adalah batupasir dan batuan karbonat, karena kedua jenis batu ini memiliki pori yang cukup besar untuk tersimpannya hidrokarbon. Reservoar sangat penting karena pada batuan inilah minyak bumi di produksi.

e) Perangkap (Trap)

Sangat penting suatu reservoar di lindungi oleh batuan perangkap. tujuannya agar hidrokarbon yang ada di reservoar itu terakumulasi di tempat itu saja. Jika perangkap ini tidak ada maka hidrokarbon dapat mengalir ketempat lain yang berarti ke ekonomisannya akan berkurang atau tidak ekonomis sama sekali. Perangkap dalam hidrokarbon terbagi 2 yaitu perangkap struktur dan perangkap stratigrafi.

Kajian geologi merupakan kajian regional, jika secara regional tidak memungkinkan untuk mendapat hidrokarbon maka tidak ada gunanya untuk diteruskan. Jika semua kriteria di atas terpenuhi maka daerah tersebut kemungkinan mempunyai potensi minyak bumi atau pun gas bumi. Sedangkan untuk menentukan ekonomis atau tidaknya diperlukan kajian yang lebih lanjut yang berkaitan dengan sifat fisik batuan. Maka penelitian dilanjutkan pada langkah berikutnya.

 

 

Kajian geofisika

Setelah kajian secara regional dengan menggunakan metoda geologi dilakukan, dan hasilnya mengindikasikan potensi hidrokarbon, maka tahap selanjutnya adalah tahapan kajian geofisika. Pada tahapan ini metoda – metoda khusus digunakan untuk mendapatkan data yang lebih akurat guna memastikan keberadaan hidrokarbon dan kemungkinannya untuk dapat di ekploitasi. Data-data yang dihasilkan dari pengukuran - pengukuran merupakan cerminan kondisi dan sifat-sifat batuan di dalam bumi. Ini penting sekali untuk mengetahui apakah batuan tersebut memiliki sifat – sifat sebagai batuan sumber, reservoar, dan batuan perangkap atau hanya batuan yang tidak penting dalam artian hidrokarbon. Metoda-metoda ini menggunakan prinsip-prinsip fisika yang digunakan sebagai aplikasi engineering.

Metoda tersebut adalah:

1. Eksplorasi seismik

Ini adalah ekplorasi yang dilakukan sebelum pengeboran. kajiannya meliputi daerah yang luas. dari hasil kajian ini akan didapat gambaran lapisan batuan didalam bumi.

2. Data resistiviti

Prinsip dasarnya adalah bahwa setiap batuan berpori akan di isi oleh fluida. Fluida ini bisa berupa air, minyak atau gas. Membedakan kandungan fluida didalam batuan salah satunya dengan menggunakan sifat resistan yang ada pada fluida. Fluida air memiliki nilai resistan yang rendah dibandingkan dengan minyak, demikian pula nilai resistan minyak lebih rendah dari pada gas. dari data log kita hanya bisa membedakan resistan rendah dan resistan tinggi, bukan jenis fluida karena nilai resitan fluida berbeda beda dari tiap daerah. sebagai dasar analisa fluida perlu kita ambil sampel fluida didalam batuan daerah tersebut sebagai acuan kita dalam interpretasi jenis fluida dari data resistiviti yang kita miliki.

 

3. Data porositas

4. Data berat jenis

Data ini diambil dengan menggunakan alat logging dengan bantuan bahan radioaktif yang memancarkan sinar gamma. Pantulan dari sinar ini akan menggambarkan berat jenis batuan. Dapat kita bandingkan bila pori batuan berisi air dengan batuan berisi hidrokarbon akan mempunyai berat jenis yang berbeda.

 

E. DAMPAK PERTAMBANGAN MINYAK LEPAS PANTAI

Dalam operasi pemboran atau pertambangan minyak lepas pantai tidak selalu berjalan dengan lancar. Adakalanya terjadi permasalahan/hambatan yang bisa mengakibatkan kerugian. Dimulai dari pemilihan lokasi sampai pada proses pengambilan minyak.

Berbagai dampak bisa saja terjadi, baik positif maupun negatif. Dampak negatif dari kegiatan ini adalah : dapat menimbulkan berbagai substansi, seperti sedimentasi dan pengaliran air asam tambang yang beracun pada kadar tertentu . Semua substansi tersebut akan keluar/dibuang melalui suatu daerah aliran sungai (DAS) menuju pesisir dan laut di mana sungai tersebut bermuara. Di samping terjadi sepanjang DAS, akumulasi akan substansi tersebut dapat terjadi dalam komponen ekosistem di daerah pesisir dan laut, dan pada kadar tertentu akan merusak ekosistem tersebut. Kerusakan ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut tentu saja akan berdampak luas pada berbagai aspek yang berhubungan dengan kehidupan manusia, karena manusia sangat tergantung pada eksositem dan sumberdaya tersebut. Misalnya, degradasi kualitas lingkungan sebagai tempat hidup yang sehat bagi masyarakat yang bermukim di daerah pesisir. Selain itu degradasi sumberdaya perikanan dan aspek pariwisata. Semuanya itu akan berdampak pada penurunan dan kerugian pada aspek ekonomi, baik untuk masa saat ini maupun di masa yang akan datang.

Di balik semua dampak negatif, sesunggunya ada peluang yang sagat besar bagi Indonesia karena bahan tambang akan selalu dibutuhkan oleh manusia, juga potensi geologis Indonesia yang sangat tinggi dan tentunya demand yang melonjak. Karena itu terkait dengan kendala dan peluang yang dihadapi oleh sektor pertambangan ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar sektor pertambangan dapat tetap menjadi sektor yang penting khususnya dalam bidang kelautan, namun juga dapat tetap menjaga keberlanjutan sumberdaya dan kelestarian lingkungan lautan dan pesisir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi dalam sektor Pertambangan khususnya pengeboran Minyak lepas pantai, maka perlu dilakukan beberapa hal antara lain

1. Penetapan kawasan pertambangan untuk perlindungan lingkungan laut dengan mempertimbangkan aspek pengelolaan secara terpadu atas berbagai sumberdaya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang

2. Perlunya percepatan pengesahan RUU Mineral dan Batubara yang mengatur pemanfaatan mineral dan batubara, sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan seluruh produk hukum yang berkenaan dengan sektor pertambangan yang sifatnya lintas sektoral baik pusat maupun daerah, mendorong peningkatan local expenditure dengan meningkatkan pemanfaatan produk dari industri-industri penunjang dalam negeri, mendorong pertumbuhan industri pengolahan produk mineral dalam negeri sehingga dapat meningkatkan nilai tambah produk mineral dan batubara nasional serta kebijakan satu pintu dalam perijinan untuk investasi sektor pertambangan

Hal hal ini perlu dilakukan oleh pemerintah pusat secara lebih terpadu dan terkoordinasi sedangkan pemerintah daerah seharusnya difungsikan sebagai kooperator dalam pengelolaan dan perlindungan lingkungan laut. Mengingat dampak pencemaran dilaut dapat menyebar ke wilayah lain maka perlindungan lingkungan laut, perlu pula diatur di tingkat Regional.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

ANALISIS INDUSTRI MINYAK DAN GAS DI INDONESIA: Masukan bagi Pengelola BUMN Biro Riset LM FEUI

 

Ashri, Muhammad, Perlindungan Lingkungan Laut dari Kegiatan Pertambangan Minyak Lepas Pantai : Memerlukan pengaturan Lintas Sektoral. Deskripsi Dokumen : http ://lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=8092&lokasi=lokal. Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) Tesis S2

Kusumastanto, Tridoyo, dan Tim Perumus, 2009. Kebijkan Kelautan Indonesia. Dewan Kelautan Indonesia

___________________, 2006. Ekonomi Kelautan (Ocean Economics – Oceanomics)– PKSPL IPB

___________________, 2002. Reposisi “Ocean Policy” Dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Di Era Otonomi Daerah. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap, bidang Ilmu Kebijakan Ekonomi Perikanan dan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB

___________________, dan Tim Penyusun,2010. Kebijakan Ekonomi Kelautan Indonesia. National Ocean Economic Policy – NOEP. Dewan Kelautan Indonesia – DEKIN

___________________, dan Tim Penyusun,2010. Kebijakan Tata Kelola Kelautan Indonesia (Indonesia Ocean Governance Policy. Dewan Kelautan Indonesia – DEKIN

___________________,, 2011. Materi Kuliah 1 Ekonomi Kelautan (OCEAN POLICY) Introduction. PKSPL – IPB

___________________,, 2011. Materi Kuliah Kebijakan Pertambangan Laut . PKSPL – IPB

Mulyadi.S, 2005. Ekonomi Kelautan. Divisi Buku Perguruan Tinggi. PT Raja Grafindo Persada Jakarta.

 

 

 

 

 

Categories: Catatan Ella

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

1 Comment

Reply Hanabi
10:44 AM on August 22, 2014 
Situs Judi Online | Agen Judi Online | Agen Domino Online | Domino88

Agen, Judi, Online, Indonesia, Terpercaya, Domino, Dadu, Situs, Game, Domino88


Ada 3 Jenis permainan yang akan disediakan di Domino88 sebagai Situs Agen Judi Online dan Agen Domino Online,
Saya akan jabarkan pengertian dari ketiga nya:
1. KiuKick atau poker domino adalah permainan online satu user dengan user lainnya untuk mengadu kemampuan dan ketangkasan.
Kartu tertinggi adalah 9-9.

2. Ceme : Jika Anda bosan menjadi player dan ingin menjadi bAndar, mainkan permainan ini akan lebih seru dan menyenangkan.

3. Adu Biji adalah permainan dua kartu domino dengan cara mengadu jumlah mata / biji kartu yang dimiliki masing-masing player.
Dalam game ini Anda bisa menerka-nerka satu kartu lawan oleh karena tidak semua kartu ditutup. (coming soon)

Welcome


Recent Videos

506 views - 0 comments

Office

Office 1
  • Program Studi Pascasarjana Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika (ESK). Dep. ESL. FEM - IPB   Jl.Kamper Kampus IPB Dramaga Gd. FEM  Wing 10 Level 4 Dramaga Bogor 16880 
  • Contact Us.  Telp.: 0251-8420476, 8621834, Fax.:0251-8421762 Email : esk@ipb.ac.id, http://esk.ipb.ac.id/
  • Milis :  (ESK_IPB2010@yahoogroups.com)